Home » Serba-Serbi » Budaya » Suku Korowai, Suku Kanibal di Pedalaman Papua
Tips Agar Cepat Hamil
Mencari Jasa Pemasaran Online ??? KLIK
Mencari Kerjasama Pemasaran Online ??? KLIK

Suku Korowai, Suku Kanibal di Pedalaman Papua

Tuesday, August 28th 2012. | Budaya

CafeBerita.com – Kelompok suku asli di Papua tercatat ada sekitar 225 suku, dengan bahasa yang berbeda-beda serta tersebar diberbagai wilayah. Beberapa suku yang jumlahnya signifikan adalah suku Asmat, Dani, Biak,Komoro, dan Waropen. Namun diantara ratusan suku di Papua, mungkin suku Korowai adalah salah satunya yang terunik. Pasalnya keberadaan suku ini baru diketahui sekitar 30 tahun yang lalu. Mereka tinggal jauh di pedalaman hutan lebat di Papua, bahkan suku tersebut sebelum tahun 70-an tidak mengetahui keberadaan kelompok lain selain dari mereka.


Sapa bilang cowok jelek gak bisa dapet cewek cantik

Suku Korowai, Kanibal Yang Terisolir Di Pedalaman Papua

Populasi suku Korowai diperkirkan mencapai 3.000 jiwa, dan sudah tentu mereka tidak mempunyai KTP, dan tidak mengetahui siapa Presidennya meskipun tinggal di wilayah Negara Indonesia. Hal unik lain dari suku Korowai adalah tempat tinggal mereka yang berada diatas pohon. Jika umumnya manusia membuat rumah diatas tanah, tidak dengan suku Korowai. Mereka membuat rumah yang berada diatas pohon dengan ketinggian mencapai 50 meter. Rumah pohon dibangun menggunakan kayu yang diambil dari hutan sekitar tempat tinggalnya. Pengerjaannya menggunakan kapak tradisional yang terbuat dari batu. Masyarakat suku Korowai menganggap rumahnya berfungsi sebagai pelindung dari panas terik matahari dan serangga-serangga yang setiap saat bisa menyerang di darat. Untuk itulah mereka membangun rumahnya diatas pohon yang tidak dijangkau hewan-hewan liar. Rumah pohon dianggap efektif menghindari banjir saat terjadi hujan lebat, selain itu juga sebagai tempat perlindungan ketika terjadi konflik internal dan antar suku.

Meskipun tempat tinggal suku Korowai masih sangat sederhana, namun beberapa diantara mereka sudah bermigrasi ke tempat lain. Sejak tahun 1980-an telah dibangun desa-desa baru di Yaniruma yang berada di tepi sungai Becking dan Basman. Yaniruma merupakan salah satu kampung di Distrik Yanimura, kabupaten Boven Digoel, provinsi Papua barat yang awalnya adalah hasil pemekaran kabupaten Merauke. Wilayah Boven Digoel terkenal karena memiliki 10.000 Hektar daerah yang berawa-rawa, dan hutan yang sangat lebat. Satu-satunya akses kendaraan menuju perkampungan suku Korowai adalah menggunakan kapal motor melalui sungai Digul dan dilanjutkan melewati sungai Elianden (anak sungai Korowai).

Di tahun 1995 seorang fotografer terkenal asal Amerika Serikat, George Steinmetz pernah mendatangi kampung suku Korowai untuk mendokumentasikannya. Beberapa karyanya dimuat dalam The New Yorker dan majalah National Geographic.

Bahasa yang digunakan suku Korowai masih termasuk kelompok bahasa  Awyu-Dumut yang banyak dipakai suku-suku di wilayah Papua tenggara. Bahasa Korowai juga merupakan bagian dari filum Trans-Nugini, seorang Misionaris Kristen asal Belanda telah membuat tata bahasa dan kamus bahasa Korowai. Umumnya masyarakat suku Korowai hanya mau menggunakan bahasa mereka sendiri karena diantara mereka tidak ada yang menguasai bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Kedatangan para Misionaris juga turut mengenalkan benda-benda logam dan pakaian, sebelumnya mereka menggunakan bambu tajam untuk mengiris daging, kerang untuk tempat penampungan air dan batu sebagai tempat memasak. Suku Korowai termasuk suku yang pandai berburu hewan-hewan liar dihutan seperti babi hutan, burung Kasuari dan lain-lain. Makanan pokok suku Korowai sendiri adalah sagu, sama seperti umumnya orang Papua.

Sampai saat ini praktek Kanibalisme masih dipakai dalam adat suku Korowai dan Hal tersebut masih umum diantara mereka. Biasanya Kanibalisme dijadikan hukum adat bagi mereka yang ditengarai sebagai musuh, pencuri dan seorang dukun jahat. Orang yang dicurigai akan dibunuh dan dimakan bersama-sama dengan anggota suku lain sekaligus sebagai persembahan jiwa bagi roh-roh. Sampai saat ini hukum adat dan praktek kanibalisme masih tetap dilakukan masyarakat suku Korowai.

Suku Korowai masih menganut kepercayaan dinamisme dan animisme, mereka mempercayai roh-roh yang menguasai hutan dan roh-roh para leluhur. Pada saat upacara keagamaan, babi digunakan sebagai korban persembahan, terutama saat sedang mengalami kesulitan.

Jika suku lain di Papua beberapa sudah berpakaian dan mengenal Koteka, suku Korowai justru tidak menggunakannya. Pengganti Koteka bagi laki-laki adalah Kantong Jakar yang ujung dibalut dengan ketat menggunakan daun. Sedangkan kaum perempuan memakai rok sangat pendek yang terbuat dari daun pohon Sagu.

Dalam kehidupan suku Korowai yang sangat sederhana dan bersahaja serta terisolir dari dunia luar seakan-akan seperti waktu yang terhenti.mereka tidak mengerti apa itu Handphone, siapa artis terkenal atau apa program janji dari pemerintah bagi kesejahteraan rakyatnya.

Kalimat yang berkaitan dengan artikel :

suku pedalaman papua kanibal, suku korowai kanibal, artikel suku pedalaman papua, suku kanibal perempuan di papua, suku pedalaman papua, suku kanibal, suku pedalaman papua berburu babi hutan, Suku kanibal di pendalaman papua, Salah satu kampung kanibal d inonesia bagian papua, kaum kanibal

Grosir Online Murah

Artikel Lain yang masih berhubungan :

Comment For Suku Korowai, Suku Kanibal di Pedalaman Papua

Grosir Online Murah