Home » Serba-Serbi » Budaya » Reog Ponorogo – Kebudayaan Jawa Timur
Tips Agar Cepat Hamil
Mencari Jasa Pemasaran Online ??? KLIK
Mencari Kerjasama Pemasaran Online ??? KLIK

Reog Ponorogo – Kebudayaan Jawa Timur

Tuesday, August 21st 2012. | Budaya

CafeBerita.com – Pada tahun 2007  terjadi sebuah kontroversi dan permasalahan mengenai klaim atau pengakuan sepihak budaya Indonesia yaitu Reog Ponorogo  yang dilakukan pemerintah Malaysia. Namun permasalahan tersebut agaknya sudah diselesaikan karena pada bulan November 2007 dubes Malaysia untuk Indonesia menyatakan bahwa Malaysia tidak pernah mengklaim secara sepihak Reog Ponorogo.


Sapa bilang cowok jelek gak bisa dapet cewek cantik

Reog Ponorogo Jawa Timur Culture

Reog Ponorogo atau disebut Singa Barong merupakan salah satu kesenian budaya masyarakat Jawa timur, tepatnya berasal dari daerah Ponorogo. Pertunjukan Reog sendiri masih cukup kental dengan kepercayaan masyarakat tradisional dan hal-hal yang berbau mistisme, serta ilmu-ilmu kebatinan yang cukup kuat. Ada berbagai versi yang menceritakan mengenai asal usul Reog Ponorogo, tetapi kisah tentang tentang Ki Ageng Kutu lebih terkenal dan dianggap merupakan cerita sebenarnya mengenai asal usul Reog. Ki Ageng Kutu adalah seorang pejabat di kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Bhre Kertabumi sekitar abad ke 15, Ki Ageng marah ketika raja lebih menurut kepada istrinya yang merupakan orang asing dari bangsa Cina (Tiongkok), serta melihat bahwa Raja tersebut berbuat korup. Ki Ageng pun meramalkan bahwa Majapahit akan mengalami keruntuhannya akibat ulah raja Bhre Kertabumi. Akhirnya Ki Ageng keluar dari kerajaan dan mendirikan sebuah padepokan seni bela diri dan ilmu kebatinan kepada anak-anak muda, namun sayangnya kelompoknya terlalu lemah dan kecil untuk melawan kerajaan Majapahit. Jalan lain ditempuhnya, yaitu dengan menciptakan kesenian Reog yang memang ditujukan untuk menyindir Raja Bhre Kertabumi.  Saat kesenian Reog menjadi popular pada masa itu, hal ini membuat Raja marah dan menyerang padepokannya serta melarang kegiatannya. Namun murid-murid Ki Ageng secara diam-diam masih tetap melakukan kegiatan dipadepokannya, dan karena banyak digemari penduduk akhirnya Reog boleh dipentaskan kembali dengan beberapa penambahan cerita-cerita dan tokoh-tokoh yang diambil dari cerita rakyat seperti kisah Sri Gethayu, Kelono Sewandono maupun Dewi Singgolangit.

Pada pertunjukan Reog Ponorogo menampilkan seseorang yang memakai topeng besar dan berbentuk kepala Singa (Singa Barong atau Dadak merak), Singa yang merupakan Raja hutan melambangkan Raja Kertabumi yang sangat haus akan kekuasaan. Ciri khas topeng Reog adalah bulu-bulu burung Merak yang banyak ditancapkan dan membumbung tinggi membentuk setengah lingkaran seperti kipas besar, bulu-bulu ini melambangkan orang-orang Cina yang menjadi teman Raja sekaligus yang mengatur setiap gerak-geriknya. KepalaTopeng Barong ini terbuat dari kerangka bambu dan rotan yang ditutupi dengan kulit Harimau Gembong, sedangkan untuk menancapkan dan menata bulu-bulu Merak digunakan kerangka-kerangka bambu serta untaian manik-manik  untuk menjepit. Panjang Dadak Merak bisa mencapai antara 2,55 meter dan lebar antara 2,30, berat total Dadak Merak dengan kepala Barongnya hampir 50 Kg bahkan ada yang sampai 60 Kg. uniknya, topeng sebesar dan seberat ini dibawa pemainnya hanya dengan gigi (menggigit), pemain Reog ini dapat mempunyai kekuatan dan kemampuan tersebut karena terlebih dulu melakukan ritual-ritual khusus, seperti bertapa dan puasa sebagai syaratnya, selain juga dengan latihan-latihan dan sudah terbiasa memainkan reog.

Cerita-cerita yang sering dimainkan saat pementasan Reog adalah kisah mengenai Raja dari Ponorogo yang ingin meminang Putri Kediri bernama Dewi Ragil Kuning. Pada saat perjalanannya, Raja Ponorogo dicegat oleh Raja Kediri bernama Singabarong yang dikawal oleh Dadak Merak dan Singa, sedangkan Raja Ponorogo dikawal Bujang Anom dan Warok. Tokoh Bujang Anom terkenal kelucuannya dan tingkahnya yang enerjik, jenaka, cerdik, suka melawak namun juga memiliki kesaktian, sedangkan Warok dikenal karena memiliki ilmu hitam yang sangat hebat, ia juga selalu memakai pakaian hitam-hitam yang menjadi ciri khasnya. Para pemeran tokoh-tokoh tersebut melakukan tarian perang dan mengadu kehebatan ilmu antara dua kerajaan yang tengah berseteru, bahkan saat memeragakan tariannya para pemain banyak yang kerasukan dan berada di alam bawah sadarnya.

Selain beberapa tokoh-tokoh tersebut, pada pertunjukan Reog Ponorogo juga ada beberapa tokoh lain seperti Jathil, yang merupakan seorang prajurit cakap dan menunggang kuda, biasanya Jathil dimainkan oleh laki-laki dengan gerakan lembut, namun saat ini Jathil sudah banyak dimainkan oleh kaum perempuan. Kemudian Klono Sewandono atau biasa disebut Raja Kelono, tokoh ini merupakan seorang yang memiliki kesaktian madraguna, senjata andalannya adalah “Pecut” atau Cemeti yang dinamai Kyai Pecut Samandiman. Gerakan-gerakan tari Raja Kelono terkadang juga seperti orang mabuk, karena Raja Kelono dikisahkan sangat cinta terhadap Putri, kekasihnya, karenanya, itu ia sering mabuk asmara.

Pertunjukan Reog Ponorogo saat ini biasanya digelar pada acara-acara hajatan masyarakat, pementasan budaya dan acara-acara lain. Dengan banyaknya kaum perantau asal Ponorogo di Jakarta, membuat pertunjukan Reog kini berkembang disana, bahkan Reog sering ditampilkan pada acara Pekan Raya Jakarta.

Kalimat yang berkaitan dengan artikel :

kebudayaan ponorogo, kesenian daerah jawa timur reog ponorogo, padepokan reog, padepokan warok ponorogo, permasalahan budaya reog, pertunjukan reog ponorogo, ponorogo jawa timur indonesia

Grosir Online Murah

Artikel Lain yang masih berhubungan :

Comment For Reog Ponorogo – Kebudayaan Jawa Timur

Grosir Online Murah