Home » Serba-Serbi » Budaya » Nias Tano Niha, Hombo Batu dan Adat Budaya Suku Nias
Tips Agar Cepat Hamil
Mencari Jasa Pemasaran Online ??? KLIK
Mencari Kerjasama Pemasaran Online ??? KLIK

Nias Tano Niha, Hombo Batu dan Adat Budaya Suku Nias

Wednesday, August 15th 2012. | Budaya

Grosir Balmut Sprei Murah

CafeBerita.com – Provinsi Sumatera utara memang sangat identik dengan masyarakat suku Batak maupun orang-orang Melayu, dan etnis tersebut lebih banyak tinggal di Sumatera daratan. Namun jangan lupakan bahwa di Sumatera utara juga terdapat sebuah pulau yang bernama pulau Nias, pulau ini terletak di sebelah barat pulau Sumatera dan luasnya mencapai 5625 km2 atau sekitar 7,8% luasnya dari total luas provinsi Sumatera utara, serta memiliki populasi mencapai sekitar 700.000 jiwa. Pulau Nias pernah diguncang bencana gempa dan Tsunami pada tahun 2004 bersamaan dengan Aceh. Tsunami di pulau Nias mencapai setinggi 10 meter dan kejadian terparah berada di wilayah Sirombu dan Mandrehe.
Nias Tano Niha


Sapa bilang cowok jelek gak bisa dapet cewek cantik

Pulau Nias banyak dihuni oleh Suku Nias atau dalam bahasa setempat sering disebut “Ono Niha”, sedangkan pulau Nias disebut dengan “Tano Niha”, Oho Niha mempunyai arti “Anak Manusia” sedangkan Tano Niha berarti “Tanah Manusia”. Masyarakat suku Nias terkenal karena mereka hidup dalam lingkungan adat budaya yang masih dipegang teguh dan kuat. Menurut para ahli arkeologi, suku Nias di pulau Nias sudah eksis sejak 12.000 tahun yang lalu, diperkirakan suku ini bermigrasi dari daratan benua Asia pada jaman Paleolitik. Bahkan suku Nias masih memiliki kebudayaan yang mirip dengan jaman Megalitikum, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya benda-benda peninggalan masa Megalitikum yang terbuat dari kayu dan batu, baik itu perhiasan, senjata tradisional alat-alat rumah tangga maupun patung-patung. Dirumah-rumah penduduk juga masih banyak ditemukan arca-arca batu dan artefak kuno yang usianya mencapai ratusan tahun, biasanya berbentuk patung manusia dan binatang-binatang, bahkan ada arca yang berbentuk ular.  Di Gunung sitoli terdapat sebuah museum yang bernama “Museum Pusaka Nias”, dalam museum ini menyimpan sekitar 6000 benda-benda bersejarah kuno dari suku Nias.

Masyarakat suku Nias menganut hukum adat yang disebut “fondrako”, hukum adat ini mengatur segala segi kehidupan masyarakat dari masa kelahiran sampai pada kematian. Ada 12 tingkatan kasta dalam masyarakat suku Nias, kasta tertinggi ialah kasta “Balugu” yang biasanya berasal dari orang kaya ataupun para tetua-tetua adat yang sering menggelar pesta besar dalam waktu berhari-hari dengan menyembelih ribuan ternak dan babi, pada pesta-pesta adat Nias selalu dibanjiri oleh para tamu undangan dari berbagai wilayah di pulau Nias. Salah satu prinsip hidup yang dijunjung tinggi suku Nias adalah “Ya’ahowu” atau dalam, bahasa Indonesia berarti “semoga diberkati”. “Ya’ahowu” merupakan cita-cita dan tujuan secara rohani untuk dapat hidup bersama, dan filosofi ini juga termakna dalam salam “Ya’ahowu”. Lebih tepatnya “Ya’ahowu” merupakan lambang persaudaraan dan perdamaian antar masyarakat suku Nias.

Di pulau Nias terdapat sebuah perkampungan adat yang bernama desa Bawomataluo. Di desa Bawomataluo masih banyak terdapat rumah-rumah adat khas Nias yang disebut rumah “Omo sebua”, dan yang unik bahwa rumah-rumah tersebut dibuat dengan tiang kayu besi dan atapnya yang tinggi-tinggi, hal ini dimaksudkan untuk melindungi para penghuni rumah dari serangan musuh karena jaman dulu masih sering terjadi peperangan antar suku, bahkan dibagian depan rumah “Omo sebua” biasanya terdapat pintu jebakan. Tinggi atap rumah ini bisa mencapai 16 meter dengan ujungnya yang sangat curam. Desa Bawomataluo sempat diusulkan oleh pemerintah untuk masuk dalam daftar kawasan warisan budaya dunia UNESCO, dan sampai saat ini mulai sering digelar festival budaya untuk menarik kunjungan para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Salah satu tradisi budaya suku Nias yang terkenal adalah tradisi Lompat Batu atau dalam bahasa setempat disebut dengan nama “Hombo Batu”. Mungkin anda ingat dengan uang pecahan Rp 1000 yang beredar antara tahun 1990’an hingga awal tahun 2000’an, dalam uang tersebut terdapat gambar orang yang sedang melompat tumpukan batu tinggi, gambar tersebut merupakan gambar tradisi “Hombo Batu” yang sering digelar oleh masyarakat adat suku Nias. Tradisi Lompat Batu ini sudah dilakukan sejak jaman nenek moyang suku Nias, dan dimaksudkan untuk para pemuda yang sedang berlatih perang, dan mereka mengartikan melompati batu tinggi tersebut sama dengan melompati benteng pertahanan lawan yang kuat dan tinggi, juga sebagai pertanda bahwa si pelompat sudah dianggap dewasa dan matang secara fisik. Susunan batu ini bisa mencapai 2 meter, berbentuk seperti pramida, saat melakukan tradisi Lompat Batu, para pemuda Nias diwajibkan untuk memakai pakaian adat dan melakukan ritual khusus, bahkan para pemuda Nias dilarang menikahi seorang gadis jika belum mampu melakukan Lompat Batu. Tari perang  atau tari baluse juga turut diadakan saat festival budaya di Bawomataluo, selain tari-tari khas Nias lain seperti Tari Maenad dan tari Moyo.

Nias juga terkenal dengan pakaian adatnya, pakaian adat untuk laki-laki dinamakan Baru Ohulu, sedangkan untuk perempuan bernama Oroba Si’oli. Pakaian adat suku Nias Tano Niha ini biasanya berwarna merah, kuning emas dan variasi dengan warna hitam maupun putih.

Kalimat yang berkaitan dengan artikel :

senjata tradisional suku nias, prinsip orang nias, nama senjata tradisional suku nias, tradisi lompat batu suku nias disebut, foto cewek cantik nias, Tradisi-tradisi dan adat suku nias, senjata adat nias, Senjata adat suku nias, senjata khas nias, senjata nias

Artikel Lain yang masih berhubungan :

Comment For Nias Tano Niha, Hombo Batu dan Adat Budaya Suku Nias