Home » Serba-Serbi » Budaya » Legenda Dewi Sri – Dewi Kesuburan
Tips Agar Cepat Hamil
Mencari Jasa Pemasaran Online ??? KLIK
Mencari Kerjasama Pemasaran Online ??? KLIK

Legenda Dewi Sri – Dewi Kesuburan

Saturday, August 11th 2012. | Budaya

Tips Agar Cepat Hamil

Mitologi Dewi Sri - Dewi KesuburanCafeberita.com – Meskipun di pulau Jawa mayoritas masyarakatnya sudah memeluk agama Islam dan sebagian Kristen, namun sisa-sisa pengaruh Hinduisme masih sangat terasa diantara masyarakat tradisional. Tak lain karena agama Hindu pernah mencapai kejayaannya di bumi Nusantara sebelum abad 15 dan sebelum keruntuhan kerajaan Majapahit. Salah satu pengaruh budaya Hinduisme yang masih tersisa saat ini adalah cerita mitologi mengenai Dewi Sri (Shri) atau dalam bahasa Sunda disebut “Nyai Pohaci Sanghyang Asri”.


Sapa bilang cowok jelek gak bisa dapet cewek cantik

Dewi Sri adalah Dewi kesuburan, Dewi Padi (Sawah) dan Dewi pertanian yang dikenal luas di wilayah pulau Jawa dan Bali. Cerita Dewi Sri muncul dalam “Wawacan Sulanjana” dan kisahnya terkait dengan mitos munculnya tanaman padi yang menjadi pangan utama masyarakat setempat. Kelahiran Dewi Sri berawal dari Antaboga yang menangis karena ketakutan menghadap Batara Guru yang mengancam memotong kaki dan tangan setiap dewa dewi yang tidak mau membantunya membangun istana. Antaboga adalah Dewa Ular sehingga dia tidak memiliki kaki dan tangan, jika dihukum maka yang dipotong adalah lehernya. Akhirnya Antaboga menangis tersedu-sedu dan air matanya tersebut berubah menjadi tiga kilauan-kilauan mutiara yang indah, setelah diketahui ternyata mutiara tersebut adalah butiran telur. Antaboga kemudian menuju istana Batara Guru untuk menyerahkan telur tersebut. Ditengah jalan ia bertemu seekor burung Gagak yang menyapanya, namun Antaboga tidak membalas sapaan si burung Gagak karena mulutnya sedang mengulum telur. Si burung Gagak tersebut marah dan menyerang secara membabi buta kepada Antaboga karena dianggapnya sombong. Dua Telur yang dibawa Antaboga pun pecah dan hanya tersisa satu yang ia bawa. Setibanya di istana, Antaboga menyerahkan telur itu kepada Batara Guru yang dengan senang hati menerimanya.

Suatu hari telur itu pun menetas dan keluarlah sesosok bayi perempuan yang sangat cantik. Setelah dewasa Dewi Sri menjadi gadis yang baik, dan memikat semua orang, kecantikannya mengungguli setiap dewi-dewi khayangan. Diam-diam Batara Guru mencintai Dewi Sri, namun para Dewata khawatir akan terjadinya skandal antara sang ayah yang meminang anak angkatnya. Akhirnya diputuskanlah bahwa Dewi Sri harus dibunuh untuk menjaga kesucian istana kahyangan. Dengan racun berbisa para Dewata membunuh Dewi Sri lalu membuang jasadnya ke bumi dan dikuburkan karena mereka ketakutan setelah membunuh gadis tak berdosa. Sesuatu yang ajaib muncul dari kuburan Dewi Sri, karena kesuciannya kuburan tersebut menumbuhkan beraneka tumbuh-tumbuhan. Dari kepala sang Dewi muncul pohon kelapa. Hidung, telinga dan bibirnya tumbuh berbagai tanaman rempah-rempah dan sayuran, rambutnya tumbuh rerumputan dan bunga-bunga. Lengan dan tangannya tumbuh pohon jati dan pohon lainnya, payudaranya tumbuh buah-buahan, pahanya tumbuh berbagai tanaman bambu, kakinya tumbuh umbi-umbian dan ketela. Dari alat kelaminnya tumbuh pohon aren bersadap nira manis, dan dari pusarnya tumbuh padi-padian.

Karena dianggap sebagai asal-usul tumbuhan padi, maka Dewi Sri sangat dipuja bagi masyarakat Jawa, Sunda dan Bali. Kepercayaan ini masih dipegang erat oleh masyarakat penganut Kejawen, Sunda Wiwitan dan kaum Hindu Bali, bahkan di Kraton Cirebon, Surakarta, Ubud dan Yogyakarta terus membudayakan tradisi mengenai Dewi Sri sampai saat ini. Bagi penganut Kejawen yang ketat, biasanya menempatkan Dewi Sri diatas sebuah amben yang terletak ditengah rumah dengan dihiasi ukiran ular dan patung “loro blonyo”, tempat ini disebut Pasren atau Petanen. Sering kali digelar upacara Mapag Sri digelar saat menyambut masa panen raya, kata Mapag Sri merupakan bahasa Jawa halus yang berarti “Menjemput Sri”.

Masyarakat Baduy, kasepuhan Banten kidul, Kuningan, Cigugur dan kampung Naga memiliki tradisi upacara “Seren Taun” yang digelar setiap tahun sebagai penghormatan Dewi Sri. Tradisi ini diperkirakan sudah berlangsung sejak jaman Sunda tempo dulu. Masyarakat Sunda melantunkan lagu-lagu agar Dewi Sri turun ke bumi untuk menyuburkan bibit padi serta untuk menangkal nasib buruk. Ada kepercayaan bahwa mereka dilarang menggunakan arit dan golok untuk menyabit padi karena Dewi Sri yang berjiwa lembut akan ketakutan. Alat yang digunakan adalah ani-ani atau pisau kecil yang dapat disembunyikan dibalik telapak tangan, selain itu cara pemetikannya harus secara pelan-pelan dan tidak boleh langsung dibabat.

Dewi Sri sering digambarkan sebagai sosok wanita muda yang perawakannya cantik dan khas Nusantara. Diberbagai wilayah, patung Dewi Sri dibuat dengan ciri khasnya masing-masing, contohnya di Jawa tengah dan Yogyakarta Arca Dewi Sri dibuat menggunakan perunggu dengan gaya gadis ningrat. Sedangkan di Bali, Dewi Sri dibuat menggunakan busana khas Bali tradisional. Kepercayaan lain adalah bahwa Dewi Sri sang Dewi Kesuburan merupakan pengatur segala nasib baik dan buruk, kekayaan dan kemiskinan serta kemakmuran dan bencana alam.

Kalimat yang berkaitan dengan artikel :

cerita dewi sri dewa pangan, legenda dewi sri, dongeng dewi sri dewa pangan, kisah dewi sri dewa pangan, dewi kesuburan, dewi sri dewa pangan, dongeng dewi sri dewi pangan, patung dewi sri, cerita dewi sri dewi kesuburan, dewi mitologi

Artikel Lain yang masih berhubungan :

Comment For Legenda Dewi Sri – Dewi Kesuburan

Distributor Sarung Jok Motor

Toko Jam Tangan Terpercaya