Home » Serba-Serbi » Budaya » Suku Kubu, Suku Anak Dalam
Tips Agar Cepat Hamil
Mencari Jasa Pemasaran Online ??? KLIK
Mencari Kerjasama Pemasaran Online ??? KLIK

Suku Kubu, Suku Anak Dalam

Thursday, August 9th 2012. | Budaya

Grosir Balmut Sprei Murah

CafeBerita.com - Suku Kubu atau biasa disebut suku Anak Dalam dan Orang Rimba adalah salah satu suku di pulau Sumatera yang hidupnya masih sangat primitif. Dalam bahasa Melayu, kata “Kubu” berarti benteng atau tempat perlindungan, ini adalah metafora dari mayoritas orang Melayu yang menganggap suku Kubu menggunakan hutan untuk menolak segala macam pengaruh budaya sosial dari luar. Suku Anak Dalam banyak ditemui di  kawasan hutan lindung “Taman Nasional Bukit Duabelas” yang terletak di provinsi Jambi dan sebagian Sumatera selatan dengan luasnya hanya sekitar 605 km2 . Diperkirakan populasi suku Anak Dalam saat ini mencapai 200.000 jiwa, sekitar 1.300 orang tinggal di tepi-tepi aliran sungai hutan, sedangkan yang lain tersebar dibeberapa kabupaten seperti kabupaten Batanghari, Tebo dan Sarolangun.


Sapa bilang cowok jelek gak bisa dapet cewek cantik

Suku Kubu Anak Dalam

Menurut cerita tradisional masyarakat setempat, suku Kubu  adalah orang Maalau Sesat yang lari ke dalam hutan rimba di sekitar danau Air Hitam, kemudian mereka menamakan diri mereka “Moyang Segayo”. Namun menurut tradisi lain menyebutkan bahwa suku Kubu berasal dari  Pagaruyung yakni sebuah kerajaan Melayu yang pernah berdiri di wilayah Sumatera Barat. Hal ini terbukti karena budaya adat dan bahasa suku Kubu mempunyai banyak kesamaan dengan suku Minangkabau, serta adanya sistem Matrilinear diantara keduannya. Bahasa yang digunakan suku Kubu masih termasuk cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa suku Kubu juga berkaitan erat dengan kelompok bahasa Melayu yang banyak digunakan di daerah hulu Palembang, Jambi dan Sumatera barat.

Suku Kubu umumnya masih banyak yang hidup secara nomaden dan menggantungkan hidup dari alam seperti berburu, menangkap ikan dan meramu. Mereka masih sering melakukan perburuan binatang-binatang liar seperti Kera, Beruang, Babi, Ular dan berbagai jenis unggas dengan alat yang masih sangat sederhana yakni tombak dan parang. Mata pencaharian lain adalah mengambil madu, mengambil buah-buahan yang tumbuh liar dan mencari rotan. Namun beberapa kelompok lain sudah mengenal berladang dan bercocok tanam karena adanya akulturasi budaya dengan masyarakat luar, bahkan ada yang sudah mengolah karet untuk dijual ke kota. Sayangnya saat ini kehidupan suku Kubu semakin mengenaskan seiring banyak hilangnya sumber daya hutan yang menjadi gantungan hidup mereka.

Dari cara berpakaian masyarakat suku Kubu tidak jauh berbeda dengan suku-suku primitif lain di dunia. Umumnya mereka tidak mengenakan baju modern dan nyaris bertelanjang, serta tanpa menggunakan alas kaki. Hanya selembar kain yang dipakai untuk menutupi bagian kemaluan, dan untuk kaum wanita hanya menggunakan kain seadanya untuk menutupi bagian dada. Untuk tempat tinggalnya, suku Kubu hanya membangun sebuah pondok yang terbuat dari kayu dan jerami sebagai atapnya, konstruksi bangunannya pun masih sangat sederhana, yaitu dengan sistem ikat dengan rotan. Bentuknya seperti rumah panggung dengan tinggi antara 1,5 meter dari permukaan tanah serta memiliki luas dan panjang sekitar 4 x 5 meter. Bagian bawah panggung biasanya digunakan untuk menyimpan padi dan hasil bumi lain, sedangkan didalam rumah panggung dijadikan tempat tinggal untuk satu keluarga. Terdapat pula bagian pondok untuk menerima tamu yang biasanya sengaja tidak dibuat dengan atap.

Dalam masyarakat suku Kubu memiliki sistem kepimpinan yang berjenjang, pemimpin mereka disebut dengan nama “Rajo”. Rajo inilah yang mempunyai tugas sebagai penegak hukum, pemimpin kegiatan ritual adat, dan diharuskan memiliki kekuatan supranatural. Mayoritas suku Kubu adalah penganut kepercayaan animisme dan agama-agama tradisional, namun ada beberapa keluarga suku Kubu yang melakukan konversi menjadi muslim. Mereka percaya terhadap keberadaan dewa-dewa dan roh-roh halus yang menguasai hutan dan setiap manusia. Suku Kubu sangat rutin menggelar upacara Besale sebagai wujud penghormatan dan persembahan kepada para dewa, upacara tersebut juga dijadikan sebagai ritual pengobatan bagi orang-orang yang sakit. Suku Kubu percaya bahwa penyakit merupakan bentuk kemurkaan para dewa dan hanya dapat disembuhkan dengan cara memohon ampun terhadap para dewa.

Ada salah satu keunikan yang paling menonjol dari Suku Kubu, yakni kemampuan mereka membedakan tumbuhan beracun dengan yang tidak beracun. Mereka memiliki pengetahuan tentang bahan-bahan pengobatan yang sumbernya dari tumbuh-tumbuhan dan hewani, hal ini didapat dari proses adaptasi masyarakat suku Kubu atau suku anak dalam dengan lingkungannya. Mereka juga memiliki kemampuan memprediksi cuaca, mendeteksi penyakit dan sanggup mencari jejak binatang maupun manusia.

Kalimat yang berkaitan dengan artikel :

suku primitif tanpa busana, suku kubu sumatera selatan, keunikan suku kubu, suku primitif di sumatera, suku tanpa busana, suku kubu disumatera barat, suku kubu sumatera, suku primitif bali tanpa busana, bahasa apa saja yang digunakan dalam suku kubu, suku primitif sumatera

Artikel Lain yang masih berhubungan :

Comment For Suku Kubu, Suku Anak Dalam