Home » Serba-Serbi » Budaya » Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Majapahit
Tips Agar Cepat Hamil
Mencari Jasa Pemasaran Online ??? KLIK
Mencari Kerjasama Pemasaran Online ??? KLIK

Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Majapahit

Thursday, August 9th 2012. | Budaya

Tips Agar Cepat Hamil

CafeBerita.com – Di Indonesia pernah berdiri sebuah kerajaan besar bernama kerajaan Majapahit yang berdiri pada tahun 1293 hingga 1500 Masehi. Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang sanggup menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara mulai dari pulau Jawa, Sumatera Kalimantan dan Semenanjung Malaya, bahkan Majapahit dianggap sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Puncak kejayaan Majapahit terjadi antara tahun 1350 hingga 1389 saat “Hayam Wuruk” menjadi raja, dibantu oleh patih “Gajah Mada”. Menurut sumber yang diambil dari Kakawin Negarakretagama pupuh XIII-XV, dibawah Hayam wuruk dan patih Gajah Mada, Majapahit sanggup memonopoli perdagangan sampai ke negeri Filipina, Tumasik (Singapura), Campa (Kamboja), Siam, Myanmar, Vietnam, bahkan banyak mengirim duta besar ke Tiongkok.


Sapa bilang cowok jelek gak bisa dapet cewek cantik

Kecamatan Trowulan Kerajaan Majapahit

Ibukota kerajaan Majapahit berada di Wilwatika atau sekarang disebut Trowulan, yang terletak di kabupaten Mojokerto, Jawa timur. Wilayah Trowulan ini terletak disebelah barat kabupaten Mojokerto dan berbatasan langsung dengan kabupaten Jombang.

Trowulan yang merupakan ibukota kerajaan Majapahit kuno terdapat banyak peninggalan kerajaan Majapahit dan puluhan situs purbakala yang luasnya mencapai 100 kilometer persegi, peninggalan-peninggalan tersebut berupa arca-arca, bangunan kuno, gerabah dan makam-makam kuno. Trowulan diserang dan kotanya di hancurkan Girindrawardhana setelah berhasil mengalakan Kertabumi pada tahun 1478, ini yang membuat ibukota Majapahit akhirnya dipindahkan dari Trowulan ke Daha. Awalnya reruntuhan situs di Trowulan ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang pada tempo dulu menjabat sebagai gubernur Jawa pada abad ke 19. Saat pertama kali ditemukan wilayah tersebut masih berupa hutan jati lebat. Selanjutnya para ahli arkeologi banyak melakukan penggalian situs dan menemukan banyak peninggalan tempat keagamaan, perdagangan, aktivitas industri, kawasan perumahan penduduk dan  pengolahan air bersih.


Beberapa candi dan kolam pemandian (petirtaan) juga ditemukan di Trowulan, diantaranya adalah:

  1. Candi Tikus
  2. Candi Brahu
  3. Candi Menak Jingga
  4. Candi Kedaton
  5. Candi Stinggil

Selain Candi-candi, juga banyak ditemukan bangunan berupa Gapura, yakni Gapura Bajang Ratu dan Gapura Wringin Lawang. Gapura Bajang Ratu merupakan bangunan Gapura yang cukup anggun, diperkirakan dibangun pada abad ke 14, kata Bajang Ratu berarti Raja yang kecil/kerdil. Menurut cerita tradisional masyarakat setempat, Gapura tersebut lebih merujuk kepada Raja Jayanegara (Raja kedua Majapahit) yang menjadi cacat setelah terjatuh dari Gapura tersebut. Sedangkan Gapura Wringin Lawang diperkirakan adalah merupakan pintu gerbang ibukota kerajaan Majapahit, kata Wringin Lawang dari bahasa Jawa mempunyai arti “Pintu beringin”. Gapura tersebut mempunyai tinggi mencapai 15,5 meter dan gaya arsitekturnya mirip Candi Bentar, bertipe gerbang terbelah, Gapura ini diperkirakan dibangun abad ke 14. Ciri-ciri bangunan Gapura Wringin Lawang banyak ditemukan didaerah Bali, meski banyak yang menganggap Wringin Lawang merupakan pintu masuk kerajaan Majapahit, namun  beberapa sejarawan menduga bahwa ini adalah pintu masuk di kediaman Patih Gajah Mada. Seluruh candi-candi dan bangunan di situs Trowulan terbuat dari bata merah, beberapa diantaranya sudah rusak, sedangkan situs-situs lain telah berhasil dipugar.

Di Selain itu ditemukan pula sebuah kolam besar bernama Kolam Segaran disekitar Kecamatan Trowulan oleh seorang arsitek asal Eropa keturunan orang Buru bernama Henri Maclaine Pont pada tahun 1926. Kolam tersebut memiliki ukuran 800-500 meter persegi, dan diperkirakan berfungsi sebagai tempat penampungan air bersih untuk persediaan pada musim kemarau. Namun dugaan lain, kolam Segaran digunakan sebagai tempat permandian dan tempat latihan renang para serdadu Majapahit yang disampingnya terdapat taman untuk menjamu para tamu kerajaan.


Beberapa situs-situs selain Candi, Gapura dan Kolam Segaran adalah:

  1. Makam Putri Cempa, sebuah makam selir Majapahit yang berasal dari negeri Champa.
  2. Situs Troloyo, disini banyak ditemukan batu nisa bercorak Islam.
  3. Balong Bunder
  4. Situs Sentonorejo dan lain-lain.

Saat ini Kecamatan Trowulan telah menjadi objek wisata andalan di kabupaten Mojokerto, Jawa timur dan sejak tahun 2009 tempat ini telah dicalonkan menjadi situs warisan dunia UNESCO. Diakhir tahun 2008 pihak pemerintah melalui Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata mengeksplorasi besar-besaran disitus Trowulan untuk membangun taman Majapahit. Selain itu Taman Majapahit juga dilengkapi dengan Museum Trowulan sebagai sarana wisata pendidikan dan rekreasi budaya sejarah Kerajaan Majapahit. Namun pembangunan Taman Majapahit tersebut ditunda karena banyak mendapat kritikan oleh para sejarawan dan ahli arkeologi karena dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan pada struktur situs tembok bata dan sumur jobong peninggalan Kerajaan Majapahit. Untuk menuju kecamatan Trowulan akses jalannya cukup mudah, karena terletak di jalan nasional yang menghubungkan kota Solo ke Surabaya.

Kalimat yang berkaitan dengan artikel :

kerajaan daha, kerajaan gajah mada, kisah stinggil mojokerto, makam stinggil, makom stinggil, peninggalan majapahit di filiphina, peninggalan majapahit di filipina, peninggalan sejarah ari kerajaan majapahit, sejerah makom stinggil

Artikel Lain yang masih berhubungan :

Comment For Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Majapahit

Distributor Sarung Jok Motor

Toko Jam Tangan Terpercaya